Rabu, 14 Desember 2011

Suku Lampung


Suku Lampung adalah suku yang menempati seluruh provinsi Lampung dan sebagian provinsi Sumatera Selatan bagian selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura, Muaradua di Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Komering Ilir serta Cikoneng di pantai barat Banten. Suku bangsa Lampung dibedakan menjadi 2 sub-suku bangsa yakni Lampung Pepadun, dan Lampung Peminggir. Lampung Pepadun berada di kecamatan kota Bumi, Abung Barat, Sukadana, Terbanggi Besar, Gunung Sugih. Sedangkan, Lampung Peminggir berada di daerah Labuhan Meringgai, Liwa, Kenali, Pesisir, Cukuh Balak, Talang Padang, Kotaagung, Wonosobo.

LETAK & JUMLAH PENDUDUK

Luas wilayah Sumatra rumpun Lampung adalah 35.376,50 km2. Suku Lampung terdiri dari suku Peminggir, Pepadun dan Abung Bunga Mayang hanya 9.103 jiwa (18,50%). Besarnya penduduk Lampung yang berasal dari pulau Jawa dimungkinkan oleh adanya kolonisasi pada zaman penjajahan Belanda, yaitu desa Bagelen Kecamatan Gedung Tataan merupakan daerah kolonisasi pertama di Indonesia. Dan dilanjutkan dengan transmigrasi pada masa setelah kemerdekaan, di samping perpindahan penduduk secara swakarsa dan spontan.
Terletak pada garis peta bumi: timur-barat di antara 105o 45' serta 103o 48' bujur timur; utara selatan di antara 3o dan 45' dengan 6o dan 45' lintang selatan. Daerah ini di sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda dan di sebelah timur dengan Laut Jawa. Beberapa pulau termasuk dalam wilayah Provinsi Lampung, yang sebagian besar terletak di Teluk Lampung, di antaranya: Pulau Darot, Pulau Legundi, Pulau Tegal, Pulau Sebuku, Pulau Ketagian, Pulau Sebesi, Pulau Poahawang, Pulau Krakatau, Pulau Putus, dan Pulau Tabuan. Ada juga Pulau Tampang dan Pulau Pisang di yang masuk ke wilayah Kabupaten Lampung Barat. 


SUMBER DAYA ALAM

Potensi daerah

Lampung fokus pada pengembangan lahan bagi perkebunan besar seperti kelapa sawit, kopi, jagung dan tebu. Dan di beberapa daerah pesisir, komoditas perikanan seperti tambak udang lebih menonjol, bahkan untuk tingkat nasional.
Pariwisata
Tahun 2009 Pemerintah Propinsi Lampung mencanangkan tahun kunjungan wisata. Jenis Wisata yang dapat dikunjungi diLampung adalah Wisata Budaya dibeberapa Kampung Tua diSukau,Liwa,Kembahang,Batu Brak,Kenali,Ranau dan Krui diLampung Barat dan Festival Sekura yang diadakan dalam seminggu setelah Idul Fitri diLampung Barat,Festival Krakatau di Bandar Lampung,Festival Teluk Stabas diLampung Barat,Festival Way Kambas di Lampung Timur.Wisata Bahari di Krui,Danau Ranau,Kota Agung,Kalianda.
KONDISI ALAM
Keadaan alam Lampung, di sebelah barat dan selatan, di sepanjang pantai merupakan daerah yang berbukit-bukit sebagai sambungan dari jalur Bukit Barisan di Pulau Sumatera. Di tengah-tengah merupakan dataran rendah. Sedangkan ke dekat pantai di sebelah timur, di sepanjang tepi Laut Jawa terus ke utara, merupakan perairan yang luas.
GUNUNG
Gunung-gunung yang puncaknya cukup tinggi, antara lain:
SUNGAI
Sungai-sungai yang mengalir di daerah Lampung menurut panjang dan cathment area (c.a)-nya adalah:
  • Way Sekampung, panjang 265 km, c.a. 4.795,52 km2
  • Way Semaka (Semangka), panjang 90 km, c.a. 985 km2
  • Way Seputih, panjang 190 km, c.a. 7.149,26 km2
  • Way Jepara, panjang 50 km, c.a. 1.285 km2
  • Way Tulangbawang, panjang 136 km, c.a. 1.285 km2
  • Way Mesuji, panjang 220 km, c.a. 2.053 km2
Way Sekampung mengalir di daerah kabupaten Tanggamus dan Lampung Selatan. Anak sungainya banyak, tetapi tidak ada yang panjangnya sampai 100 km. Hanya ada satu sungai yang panjangnya 51 km dengan c.a. 106,97 km2 ialah Way Ketibung di Kalianda.
Way Seputih mengalir di daerah kabupaten Lampung Tengah dengan anak-anak sungai yang panjangnya lebih dari 50 km adalah
  • Way Terusan, panjang 175 km, c.a. 1.500 km2
  • Way Pengubuan, panjang 165 km, c.a. 1.143,78 km2
  • Way Pegadungan, panjang 80 km, c.a. 975 km2
  • Way Raman, panjang 55 km, c.a. 200 km2
Way Tulangbawang mengalir di kabupaten Tulangbawang dengan anak-anak sungai yang lebih dari 50 km panjangnya, di antaranya:
  • Way Kanan, panjang 51 km, c.a. 1.197 km2
  • Way Rarem, panjang 53,50 km, c.a. 870 km2
  • Way Umpu, panjang 100 km, c.a. 1.179 km2
  • Way Tahmy, panjang 60 km, c.a. 550 km2
  • Way Besay, panjang 113 km, c.a. 879 km2
  • Way Giham, panjang 80 km, c.a. 506,25 km2
Way Mesuji yang mengalir di perbatasan provinsi Lampung dan Sumatera Selatan di sebelah utara mempunyai anak sungai bernama Sungai Buaya, sepanjang 70 km dengan c.a. 347,5 km2.
SUMBER AIR BERSIH
Sumber air berasal dari air PDAM, air sumur dangkal, dan air laut. Kualitas air yang berasal dari air sumur dangkal menunjukkan bahwa ketersediaan air sangat melimpah pada kedalaman 3-5 m, namun air tersebut mengandung sedikit garam (salinitas 1,2 ‰) sehingga tidak layak digunakan sebagai air bersih untuk memasak ataupun untuk mengisi bak/akuarium ikan air tawar.  Dengan demikian air dari sumur dangkal ini hanya dapat diperuntukkan sebagai air saniter kamar mandi/wc dan pembersihan/ penggelontoran kios.   Air yang berasal dari PDAM memiliki kualitas yang layak digunakan sebagai air bersih untuk keperluan memasak di rumah makan. 
TANAH
Berdasarkan Peta Geologi Propinsi Lampung skala 1:250.000 dapat diketahui bahwa formasi geologi di wilayah Kecamatan Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung termasuk dalam formasi kuarter dengan tipe batuan andesit muda (Qhv), yaitu bahan induk batuan tuf andesit atau lava andesit.  Selain itu terdapat juga endapan aluvial dan marin (Qal) yang dijumpai sepanjang sungai-sungai utama, dataran rendah pantai dan pelembahan sungai.
FAUNA
Jenis-jenis fauna yang terdapat tidak terlalu banyak, umumnya jenis fauna terrestrial, tidak ditemukan fauna akuatik, karena tidak ada sungai atau selokan, kecuali ada cekungan yang ada sedikit genangan air, yang hanya di temukan jenis amphibia.  Di sana hanya ada beberapa jenis aves atau burung, reptilia dan amphibia yang ditemukan melalui pengamatan langsung yang jenisnya dapat dilihat pada Tabel berikut.

NO Nama Daerah Nama Latin Jumlah

1
2
3
4
5

6
7

8
9
A. Aves / Burung
Perkutut
Prenjak coklat
Prenjak bergaris
 Sriti
Gereja 
B. Reptilia 
Kadal
Bunglon
 C. Amphibia 
Kodok
Katak

Geophelia striata
 Muscicapa latirotris
Prioniapolycroa
Hirudo tahtica
 Passer Montan  
Mabouya multifasciata
Calotes jubatus  


Bufo bufo
 Rana rana


3
1
2
t.d
8

2
1

2
3

FLORA
Jenis-jenis flora yang terdapat dikelompokkan berdasarkan kelompok pohon berkayu, semak, dan terna.  Jumlah jenis flora yang ada tidak banyak, hanya ada  4  jenis pohon berkayu, yaitu kersen, petai cina, jarak cina dan kedondong. Jenis terna yang ada hanya 2 jenis, yaitu pepaya dan pisang.  Pepaya dan pisang merupakan jenis yang dominan karena  sebagian lokasi studi dimanfaatkan oleh penduiduk untuk ditanami pepaya dan pisang.  Jenis yang hampir menutupi permukaan adalah semak, seperti rumput, alang-alang, dan putri malu.
HUTAN
Hutan-hutan besar di dataran rendah dapat dikatakan sudah habis dimanfaatkan untuk keepentingan pembangunan pertanian, untuk para transmigran yang terus-menerus memasuki daerah ini. Kayu-kayu hasil hutan diekspor ke luar negeri. Hutan-hutan yang masih ada, yang tanahnya dapat dikatakan belum banyak dibuka sebagian besar terletak di sebelah barat, di daerah Bukit Barisan Selatan.
INDUSTRI
Sebagai gerbang Sumatera, di Lampung sangat potensial berkembang berbagai jenis industri. Mulai dari industri kecil (kerajinan) hingga industri besar, terutama di bidang agrobisnis. Industri penambakan udang termasuk salah satu tambak yang terbesar didunia setelah adanya penggabungan usaha antara Bratasena, Dipasena dan Wachyuni Mandira. Terdapat juga pabrik gula dengan produksi pertahun mencapai 600.000 ton oleh 2 pabrik yaitu Gunung Madu Plantation dan Sugar group. di tahun 2007 kembali diresmikan pembangunan 1 pabrik gula lagi dibawah PT Pemuka Sakti Manis Indah (PSMI) yang diproyeksikan akan mulai produksi pada tahun 2008. Industri agribisnis lainnya : Ketela (ubi), Kelapa Sawit, coklat, kokoa, Nata de coco dll

ASAL USUL

Asal usul bangsa lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan danau Ranau yang secara administratif kini berada berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Barak inilah bangsa  Lampung menyabar ke setiap penjuru dengan mengikiti aliran Way atau singai-singai yaitu way Komring, Way kanan, Way semangka, Way seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungai, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai banten.

Sekala Brak memiliki makna yang dalam dan sangat penting bagi bangsa Lampung. Ia melambangkan peradaban, kebudayaan dan eksistensi Lampung itu sendiri.Bukti tentang kemasyuran masyarakat Sekala Barak didapat dari cerita turun temurun yang di sebut warahan, warisan kebudayaan, adat istiadat, keahlian serta benda dan sitis seperti tambo dan dalun seperti yang terdapat di kenali, Batu Brak dan Sukau. Kata Lampung sendiri berawal dari kata Anjak Lambung yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertam kali bermukim menampati datran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi.
Asal-usul ulun Lampung (orang Lampung atau suku Lampung) erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri, walaupun nama Lampung itu dipakai mungkin sekali baru dipakai lebih kemudian daripada mereka memasuki daerah Lampung.

Beberapa pendapat asal-usul ulun Lampung

  1. Catatan musafir Tiongkok yang pernah mengunjungi Indonesia pada abad VII, yaitu I Tsing, yang diperkuat oleh teori yang dikemukan Hilman Hadikusuma, disebutkan bahwa Lampung itu berasal dari kata To-lang-po-hwang. To berarti orang dalam bahasa Toraja, sedangkan Lang-po-hwang kepanjangan dari Lampung. Jadi, To-lang-po-hwang berarti orang Lampung.
  2. Dr. R. Boesma dalam bukunya, De Lampungsche Districten (1916) menyebutkan, Tuhan menurunkan orang pertama di bumi bernama Sang Dewa Sanembahan dan Widodari Simuhun. Mereka inilah yang menurunkan Si Jawa (Ratu Majapahit), Si Pasundayang (Ratu Pajajaran), dan Si Lampung (Ratu Balau). Dari kata inilah nama Lampung berasal.
  3. Legenda daerah Tapanuli menyeritakan, zaman dahulu meletus gunung berapi yang menimbulkan Danau Toba. Ketika gunung itu meletus, ada empat orang bersaudara berusaha menyelamatkan diri. Salah satu dari empat saudara itu bernama Ompung Silamponga, terdampar di Krui, Lampung Barat. Ompung Silamponga kemudian naik ke dataran tinggi Belalau atau Sekala Brak. Dari atas bukit itu, terhampar pemandangan luas dan menawan hati seperti daerah yang terapung. Dengan perasaan kagum, lalu Ompung Silamponga meneriakkan kata, "Lappung" (berasal dari bahasa Tapanuli kuno yang berarti terapung atau luas). Dari kata inilah timbul nama Lampung. Ada juga yang berpendapat nama Lampung berasal dari nama Ompung Silamponga itu.
  4. Penelitian siswa Sekolah Thawalib Padang Panjang pada tahun 1938 tentang asal-usul ulun Lampung. Dalam cerita Cindur Mato yang berhubungan juga dengan cerita rakyat di Lampung disebutkan bahwa suatu ketika Pagaruyung diserang musuh dari India. Penduduk mengalami kekalahan karena musuh telah menggunakan senjata dari besi. Sedangkan rakyat masih menggunakan alat dari nibung (ruyung). Kemudian mereka melarikan diri. Ada yang malalui Sungai Rokan, sebagian melalui dan terdampar di hulu Sungai Ketaun di Bengkulu lalu menurunkan Suku Rejang. Yang lari ke utara menurunkan Suku Batak. Yang terdampar di Gowa, Sulawesi Selatan menurunkan Suku Bugis. Sedangkan yang terdampai di Krui, lalu menyebar di dataran tinggi Sekala Brak, Lampung Barat. Mereka inilah yang menurunkan Suku Lampung.
  5. Teori Hilman Hadikusuma yang mengutip cerita rakyat. Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat. Penduduknya disebut Tumi (Buay Tumi) yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekarmong. Mereka menganut kepercayaan dinamis, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa.
Buai Tumi kemudian kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana. Mereka adalah Umpu Nyerupa, Umpu Lapah di Way, Umpu Pernong, dan Umpu Belunguh. Keempat umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak sebagaimana diungkap naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama poyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati. Berdasarkan Kuntara Raja Niti, Hilman Hadikusuma menyusun hipotesis keturunan ulun Lampung sebagai berikut:
*             Inder Gajah
*             Gelar: Umpu Lapah di Way
Kedudukan: Puncak
Keturunan: Orang Abung
*       Pak Lang
*       Gelar: Umpu Pernong
Kedudukan: Hanibung
Keturunan: Orang Pubian
*       Sikin
*       Gelar: Umpu Nyerupa
Kedudukan: Sukau
Keturunan: Jelma Daya
*       Belunguh
*       Gelar: Umpu Belunguh
Kedudukan: Kenali
Keturunan: Peminggir
*        
*       Indarwati
*       Gelar: Puteri Bulan
Kedudukan: Ganggiring
Keturunan: Tulangbawang
ADAT ISTIADAT
Dalam perkembangannya, secara umum masyarakat adat Lampung terbagi dua yaitu masyarakat adat Lampung Saibatin atau peminggir dan masyarakat adat Lampung Pepadun.

Masyarakat adat Lampung Saibatin

Masyarakat Adat Lampung Saibatin mendiami wilayah adat: Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung rmpat kota ini ada di Propinsi Sumatera Selatan, Cikoneng di Pantai Banten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin seringkali juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:

Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)

Keratuan Melinting (Lampung Timur)

Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)

Keratuan Semaka (Tanggamus)

Keratuan Komering (Provinsi Sumatera Selatan)

Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten)

Masyarakat adat Lampung Pepadun

Masyarakat beradat Pepadun/Pedalaman terdiri dari:

Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa)

Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.

Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan)

Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.

Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi)

Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.

Sungkay-WayKanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur)

Masyarakat Sungkay-WayKanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Belambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.
Diperkirakan bahwa yang pertama kali mendirikan adat Pepandu adalah masyarakat Abung yang ada disekitar abad ke-17 masehi di zaman seba Banten. Pada abad ke-18 masehi adat Pepandu berkembang pula di daerah Way kanan, Tulang Bawang dan Way Seputih (Pubian). Kemudian pada permulaan abad ke-19 masehi, adat Pepandu disempurnakan dengan masyarakat kebuai inti dan kebuai-kabuai tambahan (gabungan). Bantuk-bentuk penyempurnaan itu melahirkan apa yang dinamakan Abung Siwo Migou (Abung Siwo Mego), Megou Pak Tulang Bawang dan Pubian Telu Suku.

Sifat-sifat Ulun Lampung

Menurut kitab Kuntara Raja Niti, orang Lampung memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
·         Piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri),
·         Juluk-adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya),
·         Nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu),
·         Nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis), dan,
·         Sakai-sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya).
Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Provinsi Lampung.
Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):
Tandani hulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia hina sehitung, wat malu rega diri
Juluk-adok ram pegung, nemui-nyimah muwari
Nengah-nyampur mak ngungkung, sakai-sambaian gawi
.
Adat istiadat dan kehidupan tradisional menjadi ciri khas suku-suku bangsa Indonesia, yang sebagian besar menjadi penduduk daerah ini. Namun demikian beberapa tradisi asli upacara cakak pepadun (upacara pelantikan untuk memegang suatu jabatan/kedudukan dalam adat).
Pemberian gelar (adok/adek) dalam upacara perkawinan adat biasanya diikuti oleh seluruh masyarakat adat yang bersangkutan dan berlangsung cukup hikmad dan lama. Minggu pertama diadakan acara rapat kampung; pada minggu kedua mempersiapkan segala keperluan dan sampai kepada upacara pernikahan. Upacara tersebut diatas sering juga disertai dengan acara-acara kesenian, pesta khusus muda-mudi seperti muakhi/jaga damar, dan sebagainya.
Upacara Adat yang masih dilestarikan

  • Kuruk Limau 
Upacara Tujuh Bulanan 
  • Becukor 
Upacara gunting rambut bayi yang berumur 2 tahun 
  • Turun Tanah 
Upacara ketika bayi berumur 3 bulan 
  • Nyerak 
Upacara melubangi bagian daun telinga bayi perempuan untuk memasang anting-anting 
  • Rebahdiah 
Upacara adat perkawinan besar dari suku saibatin 
  • Hibalbatin 
Upacara adat perkawinan jujur antara pria dan wanita yang berlainan marga 
  • Bumbung Aji 
Upacara adat perkawinan jujur tingkat 2, dimana mempelai pria hanya menggunakan pakaian haji 
  • Intar Padang 
Upacara perkawinan adat yang tidak dilakukan di balai adat, melainkan hanya dilakukan oleh pemuka adat dan tidak disaksikan oleh penyeimbang 
  • Sebambangan 
Upacara Perkawinan tanpa melalui lamaran dan masa tunangan 
  • Ngelepaskan Niat 
Upacara yang dilakukan seseorang untuk memenuhi nazar 
  • Ngerujak-ngelimau 
Upacara makan rujak dan membersihkan rambut pada saat menjelang bulan Ramadhan 
  • Bajenong Jaru
Upacara pengukuhan kepala marga yang baru. 

Falsafah Hidup Masyarakat Setempat : 

  • Pi'il Pesenggiri 
Segala sesuatu yang menyangkut harga diri, prilaku dan sikap hidup yang dapat menjaga dan menegakkan nama baik dan martabat secara pribadi maupun kelompok yang senantiasa dipertahankan. 
  • Sakai Sambaian 
Gotong Royong, Tolong-menolong, bahu membahu, dan saling memberi sesuatu yang diperlukan bagi pihak lain. 
  • Nemui Nyimah 
Bermurah hati dan ramah tamah terhadap semua pihak baik terhadap orang dalam kelompoknya maupun terhadap siapa saja yang berhubungan dengan mereka. 
  • Nengah Nyappur 
Tata pergaulan masyarakat Lampung dengan kesediaan membuka diri dalam pergaulan masyarakat umum dan pengetahuan luas. 
  • Bejuluk Baedek 
Tata ketentuan pokok yang selalu diikuti dan diwariskan turun temurun dari zaman dahulu. 


Kebukit Samo Mendaki, Kelurah Samo Menurun, Yang Berat Samo Dipikul Yang RIngan Samo Dijinjing. dengan senantiasa dilandasi dengan semangat hidup atau dikenal dengan 5 (lima) filosofi/prinsip hidup yaitu : Pi'il Pesenggiri, Bejuluk Beadek, Nemuy Nyimah, Nengah Nyappur dan Sakay Sembayan, yang merupakan tekad masyarakat Lampung dengan kesadaran bersama sehingga tetap terpelihara kerukunan antar sesama masyarakat yang saling asah, saling asih dan saling asuh.
dengan santiasa 

AGAMA

Suku Lampung hidup di Propinsi Lampung, Sumatra Selatan, Indonesia. Suku terabaikan ini populasinya 2 juta dan hanya ada beberapa orang Kristen saja di sana. Orang lampung Kristen  yang tadinya beragama non-Kristen biasnya menghindari percakapan tentang iman mereka karena takut di benci oleh keluarga, diusir oleh keluaraga, diusir oleh masyarakat atau bahkan dianiaya sampai meniggal. Ini yang menyebabkan Injil sulit untuk tersebara di sana.

Karena mereka dikenal sering menggunakan kekerasan, pembalas dendam dan sombong maka orang-orang Lampung ini sangat sulit dijangkau. Lebih dari 90% penduduknya memeluk agama Islam; kebanyakan sangat berbakti, beberapa malah militan. Islam di Lampung bercampur dengan berbagai adat keagamaan, memekai jimat-jimat, dan percaya takhayul.

Banyak suku Jawa yang bertransmigrasi ke Lampung menyebabkan orang-orang Lampung memegang lebih teguh lagi kebudayaan dan terutama agama mereka. Gereja yang ada di Lampung baisanya terdiri dari orang Jawa. Gereja-gereja ini dipandang sebagai ancaman trhadap budaya dan identitas masyarakat Lampung. Seakan rintangan budaya tidak cukup untuk menghalangi masuknya Injul, banyak umat Kristen di sana dilumpuhkan dengan ketakutan dan tidak bersedia untuk membagikan kabar baik karena kemungkinan penyiksaan.

Allah sedang bekerja di tengah-tengah suku ini dan agar mereka yang percaya dapat membawa kebangkitan rohani di antara mereka.beberapa orang kristen Indonesia tinggal dan bekerja untuk membagikan Injil di antara suku Lampung ini. Ada juga beberapa kelompok kecil dan orang-orang percaya yang berkeiginan kuat untuk membagikan Injil dengan teman-teman dan keluarga mereka. Tetepi sekarang ini mereka masih bersekutu secara rahasia.

Beberapa usaha telah di lakukan untuk menabur benih Injil di Lampung. Beberapa Alkitab telah di terjemahkan kedalam bahasa mereka ( ada juga mereka yang dapat membaca dan mengerti Alkitab Indonesia).


BAHASA
Bahasa orang Lampung disebut behasou Lampung atau umung Lampung atau cewo Lampung. Bahasa ini dibagi menjadi 2 logat yakni :
1. Logat Lampung Belalau, terbagi lagi menjadi :
a. logat Jelma Doya,
b. Pemanggilan Peminggir,
c. Melinting Peminggir
d. Pubian.
2. Logat Lampung Abung, terbagi lagi menjadi :
a. Sub dialek Abung
b. Sub dialek Tulang bawang.
Masyarakat Lampung yang plural menggunakan berbagai bahasa, antara lain bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bali, bahasa Minang, dan bahasa setempat yang disebut bahasa Lampung.Sehari-hari orang Lampung bertutur dengan bahasa Lampung.
Bahasa Lampung, adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung di Propinsi Lampung, selatan palembang dan pantai barat Banten.
Bahasa ini termasuk cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Melayu dan sebagainya.
Aksara Lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.
Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.
Berdasarkan peta bahasa, Bahasa Lampung memiliki dua subdilek. Pertama, subdialek A (api) yang dipakai oleh ulun Melinting-Maringgai, Pesisir Rajabasa, Pesisir Teluk, Pesisir Semaka, Pesisir Krui, Belalau dan Ranau, Komering, dan Kayu Agung (yang beradat Lampung Peminggir/Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Kedua, subdialek o (nyo) yang dipakai oleh ulun Abung dan Menggala/Tulangbawang (yang beradat Lampung Pepadun).
Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, yaitu Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow.
A. Dialek Belalau (Dialek Api), terbagi menjadi:
  1. Bahasa Lampung Logat Belalau dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomisili di Kabupaten Lampung Barat yaitu Kecamatan Balik Bukit, Batu Brak, Belalau, Suoh, Sukau, Ranau, Sekincau, Gedung Surian, Way Tenong dan Sumber Jaya. Kabupaten Lampung Selatan di Kecamatan Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong dan Gedongtataan. Kabupaten Tanggamus di Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang, Pagelaran, Pardasuka, Hulu Semuong, Cukuhbalak dan Pulau Panggung. Kota Bandar Lampung di Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara, Panjang, Kemiling dan Raja Basa. Banten di di Cikoneng, Bojong, Salatuhur dan Tegal dalam Kecamatan Anyer, Serang.
  2. Bahasa Lampung Logat Krui dipertuturkan oleh Etnis Lampung di Pesisir Barat Lampung Barat yaitu Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat dan Ngaras.
  3. Bahasa Lampung Logat Melinting dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Timur di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pugung dan Kecamatan Way Jepara.
  4. Bahasa Lampung Logat Way Kanan dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Way Kanan yakni di Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga dan Pakuan Ratu.
  5. Bahasa Lampung Logat Pubian dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomosili di Kabupaten Lampung Selatan yaitu di Natar, Gedung Tataan dan Tegineneng. Lampung Tengah di Kecamatan Pubian dan Kecamatan Padangratu. Kota Bandar Lampung Kecamatan Kedaton, Sukarame dan Tanjung Karang Barat.
  6. Bahasa Lampung Logat Sungkay dipertuturkan Etnis Lampung yang Berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Sungkay Selatan, Sungkai Utara dan Sungkay Jaya.
  7. Bahasa Lampung Logat Jelema Daya atau Logat Komring dipertuturkan oleh Masyarakat Etnis Lampung yang berada di Muara Dua, Martapura, Komring, Tanjung Raja dan Kayuagung di Propinsi Sumatera Selatan.
B. Dialek Abung (Dialek Nyow), terbagi menjadi:
  1. Bahasa Lampung Logat Abung Dipertuturkan Etnis Lampung yang yang berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Kotabumi, Abung Barat, Abung Timur dan Abung Selatan. Lampung Tengah di Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman, Seputih Banyak, Seputih Mataram dan Rumbia. Lampung Timur di Kecamatan Sukadana, Metro Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way Jepara. Kota Metro di Kecamatan Metro Raya dan Bantul. Kota Bandar Lampung di Gedongmeneng dan Labuhan Ratu.
  2. Bahasa Lampung Logat Menggala Dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulang Bawang meliputi Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah, Gunung Terang dan Gedung Aji.
 Aksara Lampung disebut aksara Kaganga
Aksara Kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra sebelah selatan. Aksara-aksara yang termasuk kelompok ini adalah antara lain aksara Rejang, Kerinci, Lampung, Rencong dan lain-lain.
Nama kaganga ini merujuk pada ketiga aksara pertama dan mengingatkan kita kepada urutan aksara di India.
Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of Hull (Inggris) dalam buku Folk literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatra sebelah selatan adalah Surat Ulu.
Aksara Batak atau Surat Batak juga berkerabat dengan kelompok Surat Ulu akan tetapi urutannya berbeda. Diperkirakan zaman dahulu di seluruh pulau Sumatra dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara Kaganga (Surat Ulu) ini. Tetapi di Aceh dan di daerah Sumatra Tengah (Minangkabau dan Riau), yang dipergunakan sejak lama adalah huruf Jawi.
Perbedaan utama antara aksara Surat Ulu dengan aksara Jawa ialah bahwa aksara Surat Ulu tidak memiliki pasangan sehingga jauh lebih sederhana daripada aksara Jawa, dan sangat mudah untuk dipelajari .
Aksara Surat Ulu diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan aksara Kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan.
MATA PENCAHARIAN & TEKNOLOGI

Pada umumnya mata pencaharian penduduk di bidang pertanian, perkebunan, nelayan, buruh jasa, pegawai negeri, karyawan swasta, dengan distribusi pekerjaan yang beragam dan gerak sosialnya relatif dinamis. Sedangkan wilayah pantai Timur juga diarahkan pada pelestarian alam dan lingkungan hidup melalui penanaman terumbu karang buatan, budidaya kerang hijau serta penanam bakau. Bagaimanapun perubahan distribusi mata pencaharian penduduk terkait dengan pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi, perdagangan, teknologi industri, teknologi informasi, dan perubahan sosial karena adanya pembangunan. Meski pada setiap wilayah kabupaten dan kota memiliki keunggulan dari aspek ekonomi, ternyata dinamika dan perkembangan pasar menuntut warga masyarakat agar lebih responsif terhadap perkembangan yang cenderung semakin cepat dan kompleks. Masyarakat sebagai sistem sosial berubah karena terjadi interaksi yang signifikan dalam sub-sub sistem sosial yang dapat diamati secara struktural maupun fungsional

sistem mata pencaharian hidup umumnya kan juga berhubungan dengan peralatan hidup dan teknologi. klo dia pedagang enak udah jelas. klo nelayan kan juga harus punya kapal dan hal-hal yang berbau dengan pengetahuan tentang kapal dan perikanan serta cuaca dan iklim.

Pada masa lalu, orang Lampung telah memiliki keris yang disebut emas wai besi yang dipakai khusus oleh golongan bangsawan pada masyarakat Lampung Pepadun.

ORGANISASI SOSIAL

Sistem Perkawinan

Bentuk perkawinan masyarakat Lampung dibedakan atas 2 bentuk, yaitu
1. Perkawinan biasa. Dalam perkawinan biasa seorang istri dan anak-anaknya menjadi anggota kelompok suaminya. Sebagai gantinya, suami diwajibkan memberikan mas kawin dan uang jujur (uang jojoh).
2. Perkawinan semanda. Dalam perkawinan ini, pihak keluarga laki-laki tidak membawa uang jujur, tetapi sang suami dan anak-anaknya menjadi anggota keluarga sang istri.
Selain itu, dalam perkawinan pada masyarakat Lampung,ada larangan kawin antara orang-orang yang tidak sederajat.

Sistem Kekerabatan

Prinsip penarikan garis keturunan orang Lampung bersifat patrilineal. Pada masyarakat Saibatin pengelompokan dalam satu kampung membentuk sebuah klen kecil yang disebut sebatin yang terbentuk atas dasar keturunan atau perkawinan. Secara umum anak laki-laki tertua dari keturunan yang lebih tua mempunyai kedudukan istimewa, yaitu sebagai ahli waris keluarganya.

Sistem Kemasyarakatan

Pada masyarakat Lampung Saibatin, pemimpin Saibatin disebut penyimbang sebatin. Sedangkan pada masyarakat Lampung Pepadun, dipimpin oleh penyimbang tiyuh. Beberapa tiyuh tergabung menjadi satu kesatuan lebih besar disebut buay atau kebuayan. Pada masyarakat Lampung Pepadun berlaku hukum adat yang didasarkan pada Piagam Adat Lampung Siwo Migo. Pelanggaran terhadap ketentuan adat dikenai sanksi berupa denda atau keharusan melaksanakan upacara adat. Kehidupan kemasyarakatan di atur dengan sistem kekerabatan yang bersifat Genealogis Patrilineal dimana pemarintahan dilakuka secara adat terutama yang menyatur sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, kehidupan sosial dan budaya.

Aspek Pembangun

Pada masa lalu, masyarakat Lampung mengenal adanya pembagian pelapisan sosial. Tetapi dengan berjalannya waktu, sistem pelapisan sosial ini mulai berubah. Kalangan rakyat biasa dapat tampil menjadi pemimpin dan memegang kekuasaan. Orng Lampung juga sangat menghormati dan mematuhi hukum adat yang berlaku sebagai cerminan tingkah laku di jaman modern saat ini.

PENDIDIKAN

Pada masa lalu orang Lampung telah mengenal pola perkampungan yang menyebar disepanjang aliran sungai. Orang Lampung juga telah memiliki aksara sendiri. Selain itu, mereka juga sudah mengenal bangunan semacam lumbung disebut “walai” atau “balai” untuk menyimpan bahan makanan pokok.

BANDAR LAMPUNG : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Lampung terus melakukan pelestarain sastra dan budaya Lampung. Pelestarian sastra dikhususkan pada sastra lisan.

Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenian Disbudpar Suwandi, saat dihubungi via telepon, Jumat (20-2), mengatakan Disbudpar Provinsi Lampung telah bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) untuk mengadakan siaran sastra lisan.

Selain itu, Disbudpar juga akan mendata ahli-ahli sastra lisan di setiap kabupaten. Bentuk sastra lisan di setiap kabupaten di Lampung kadang berbeda satu sama lain. "Pasti ada ahli sastra lisan di setiap kabupaten, tapi terkadang jarang muncul sehingga tidak diketahui orang lain," kata Suwandi.

Provinsi Lampung, kata Suwandi, akan menjadi tuan rumah lomba sastra lisan tahun 2010. Selain itu ada beberapa kegiatan yang bisa mendukung pelestarian satra dan budaya Lampung, seperti seminar budaya, pertemuan penghayat kepercayaan, dan seminar arkelogi. Penghayat atau penganut kepercayaan sudah masuk dalam ranah budaya sehingga ada nilai-nilai positif yang akan dilestarikan.

Menurut Suwandi, pelestarian sastra Lampung dalam penerbitan buku akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik). Penerbitan buku-buku sekolah untuk mata pelajaran muatan lokal bahasa Lampung menjadi wewenang Disdik. Namun, Disbudpar tetap mempunyai program menerbitkan media berbahasa Lampung, misalnya booklet, leaflet, dan buku. Disbudpar telah bekerja sama dengan sebuah lembaga untuk menerbitkan kamus bahasa Lampung-Indonesia. Namun, hingga kini kamus itu belum dicetak.

Mengenai pelestarian budaya, lanjut Suwandi, Provinsi Lampung telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) No.6 Tahun 2008 tentang Pelestarian Budaya. Dalam perda tersebut, setiap hari masyarakat harus menggunakan bahasa Lampung, setiap kegiatan harus menggunakan pakaian khas Lampung, dan pembuatan bangunan khas Lampung di setiap bangunan yang didirikan.

Bangunan pemerintah dan swasta harus mencirikan budaya Lampung. "Misalnya dengan pembuatan siger di atas bangunan yang didirkan. Masyarakat Bali pun selalu memberi simbol budaya pada bangunan yang dibuat," kata Suwandi.

Suwandi menambahkan, perda tersebut hanya sebatas himbauan tidak memuat sanksi. Sanksi hanya dikenakan bagi oknum yang melakukan perusakan terhadap barang peninggalan budaya. Agar perda tersebut efektif, Pemerintah Propinsi akan menyosialisasikan terlebih dahulu. Sosialisasi penting agar masyarakat tidak kaget dan menolak penerapan perda. Hasil sosialisasi akan menjadi bahan dalam pembuatan peraturn gubernurnya. Pemprop ingin agar budaya Lampung menjadi tuan rumah din negeri sendiri.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Lampung Jhonson Napitupulu, saat ditanya mengenai program pelestarian budaya di sekolah, menjelaskan bahwa pelestarian budaya masuk kewenangan Disbudpar. Penerbitan buku berbahasa Lampung serta buku muatan lokal di sekolah juga masuk wilayah kerja Disbudpar.

Daftar Perguruan Tinggi yang ada di Lampung :


KESENIAN
Orang Lampung dikenal sebagai penghasil kain tenun tradisional (tapis) dengan motif hiasan yang indah. Pada masa lalu, kain tapis ini hanya digunakan pada upacara perkawinan atau upacara adat lainnya. Bentuk kesenian lainnya yaitu jenis tari-tarian yang dikembangkan untuk kebutuhan upacara-upacara adat, misalnya tari sambai, tari kipas, dan sebagainya. Mereka juga memiliki alat-alat musik miasalnya, gendang, kulintang, talo, dan serdam (suling bambu).

Tapis Lampung

Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat. Menurut Van der Hoop disebutkan bahwa orang lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad II masehi. Motif kain ini ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati. Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh. Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh taradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia. Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini. Walaupun unsur baru tersebut telah berpengaruh, unsur lama tetap dipertahankan. Adanya komunikasi dan lalu lintas antar kepulauan Indonesia sangat memungkinkan penduduknya mengembangkan suatu jaringan maritim. Dunia kemaritiman atau disebut dengan jaman bahari sudah mulai berkembang sejak jaman kerajaan Hindu Indonesia dan mencapai kejayaan pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam antara tahun 1500 1700.
Bermula dari latar belakang sejarah ini, imajinasi dan kreasi seniman pencipta jelas mempengaruhi hasil ciptaan yang mengambil ide-ide pada kehidupan sehari-hari yang berlangsung disekitar lingkungan seniman dimana ia tinggal. Penggunaan transportasi pelayaran saat itu dan alam lingkungan laut telah memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal. Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan. Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup. Diketahui suku Lampung yang umum memproduksi dan mengembangkan tenun Tapis adalah suku Lampung yang beradat Pepadun.

Pakaian Khas Suku Lampung

Selai itu, Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistim sulam (Lampung; "Cucuk"). Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak. Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Tari

Ada berbagai jenis tarian yang merupakan aset budaya Provinsi Lampung. Salah satu jenis tarian yang terkenal adalah Tari Sembah. Ritual tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada para tamu atau undangan yang datang, mungkin bolehlah dikatakan sebagai sebuah tarian penyambutan. Selain sebagai ritual penyambutan, tari sembah pun kerap kali dilaksanakan dalam upacara adat pernikahan masyarakan Lampung.

Musik

Sebagaimana sebuah daerah, Lampung memiliki beraneka ragam jenis musik, mulai dari jenis tradisional hingga modern (musik modern yang mengadopsi kebudayaan musik global.red). Adapun jenis musik yang masih bertahan hingga sekarang adalah: Klasik Lampung, jenis musik ini biasanya diiringi oleh alat musik gambus dan gitar akustik. Mungkin jenis musik ini merupakan perpaduan budaya Islam dan budaya asli itu sendiri. Beberapa kegiatan festival diadakan dengan tujuan untuk mengembangkan budaya musik tradisional tanpa harus khawatir akan kehilangan jati diri. Festival Krakatau contohnya, adalah sebuah Festival yang diadakan oleh Pemda Lampung yang bertujuan untuk mengenalkan Lampung kepada dunia luar dan sekaligus menjadi ajang promosi pariwisata.

Sastra tradisi lisan Lampung

Sastra lisan Lampung menjadi milik kolektif suku Lampung. Ciri utamanya kelisanan, anonim, dan lekat dengan kebiasaan, tradisi, dan adat istiadat dalam kebudayaan masyarakat Lampung. Sastra itu banyak tersebar dalam masyarakat dan merupakan bagian sangat penting dari khazanah budaya etnis Lampung. A. Effendi Sanusi (1996) membagi lima jenis sastra tradisi lisan Lampung: peribahasa, teka-teki, mantera, puisi, dan cerita rakyat.

Sesikun/sekiman (peribahasa)

Sesikun/sekiman adalah bahasa yang memiliki arti kiasan atau semua berbahasa kias. Fungsinya sebagai alat pemberi nasihat, motivasi, sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan atau pemanis dalam bahasa.

Seganing/teteduhan (teka-teki)

Seganing/teteduhan adalah soal yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk pengasah pikiran.

Memmang (mantra)

Memmang adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib: dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka, dan sebagainya.

Warahan (cerita rakyat)

Warahan adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan secara lisan; bisa berbentuk epos, sage, fabel, legenda, mite maupun semata-mata fiksi.

Puisi

Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.

Sastra modern Lampung

Sebagaimana Melayu di Sumatra pada umumnya, Suku Lampung sangat kental dengan tradisi kelisanan. Pantun, syair, mantra, dan berbagai jenis sastra berkembang tidak dalam bentuk keberaksaraan, sehingga wajar jika memiliki pola-pola sastra lama yang serupa sebagai ciri dari kelisanan itu.
Tidak seperti sastra Jawa, Sunda, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra modern, sastra modern berbahasa Lampung baru bisa ditandai dengan kehadiran kumpulan sajak dwibahasa Lampung Indonesia karya Udo Z. Karzi, Momentum (2002). 25 puisi yang terdapat dalam Momentum tidak lagi patuh pada konvensi lama dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung, baik struktur maupun dalam tema. Dengan kata lain, Udo melakukan pembaruan dalam perpuisian Lampung sehingga ada yang menyebutnya "Bapak Puisi Modern Lampung".

Teater

Perkembangan teater di Lampung banyak dilatarbelakangi dari keinginan para pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok seni untuk mendalami seni peran dan pertunjukkan. Beberapa kelompok teater kampus dan pelajar yang masih tercatat aktif sampai saat ini. Sedangkan beberapa teater yang digerakkan seniman-seniman Lampung yaitu Teater Satu, Komunitas Berkat Yakin (Kober), Teater Kuman, Teater Sendiri. Penggerak teater di Lampung yang masih eksis mengembangkan seni pertunjukkan teater melalui karya-karyanya antara lain Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat, Robi akbar, M. Yunus, Edi Samudra Kertagama, Ahmad Jusmar, Imas Sobariah, Ahmad Zilalin, Darmawan. Lampung tidak hanya dikenal banyak melahirkan sastrawan-sastrawan baru namun aktor-aktor potensial pun juga tidak sedikit yang muncul seperti, Rendie Dadang Yusliadi, Robi Akbar, Eyie, Iin Mutmainah, M Yunus, Dedi Nio, Liza Mutiara Afriani, Iskandar GB, Ruth Marini.
Lampung adalah daerah dengan kebudayaan yang masih asli seperti tulisan Lampung, adat perkawinan, tarian Cangget, Tari Penganggeh, rumah panggung (Nuwo Sesat) serta barang-barang peninggalan leluhur.

 Tulisan ini dibuat Universitas Gunadarma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar